Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pembentukan akhlak anak. Aspek-aspek tersebut sangat perlu diketahui oleh orang tua anak. Breikut ini adalah aspek-aspek yang membentuk akhlak menurut para ahli sufi, Yaitu :
a. Makanan.
Dalam hal makanan perlu diperhatikan asal makanan tersebut apakah didapat dengan cara halal atau tidak. Begitu juga dari jenis makanannya apakah termasuk jenis makanan halal atau haram. Makanan yang berasal dari barang haram akan membuat hati gelap sehingga mudah dikuasai oleh nafsu sahwatnya. Demikian juga daging yang terbentuk dari makanan haram akan memberatkan jika diajak pada kebaikan dan akan selalu terdorong berperilaku tercela.
Kemudian diperhatikan pula cara makannya yaitu makan dengan duduk, menggunakan tangan kanan, mengambil makanan hanya yang dekat dari dirinya saja, serta berhenti makan sebelum kenyang, sesuai anjuran Nabi untuk membatasi makan. Selanjutnya perut diibaratkan seperti bejana yang dibakar bawahnya. Jika bejana tersebut penuh maka akan menimbulkan banyak uap sehingga menutupi kejernihan hati. Hati yang gelap oleh uap tersebut akan sulit sekali menerima nasehat dan kebenaran.
b. Latihan dan pendidikan.
Dalam pembentukan akhlak diperlukan proses yang terus menerus mulai dari sejak dini. Akhlak adalah keadaan jiwa sedangkan jiwa adalah tentara yang terlatih maka dengan sering latihan akan semakin meningkatkan kualitasnya. Walaupun mempunyai bibit yang baik tapi tanpa sering latihan maka akan kurang pula hasilnya.
c. Perkumpulan.
Agar terbentuk akhlak yang mulia maka bergaullah dengan orang – orang yang sholeh dan berakhlak mulia. Orang sholeh adalah orang yang rajin berdo’a dan mendo’akan. Dengan sering berkumpul bersama orang sholeh maka akan sering pula mendapat nasehat baik dan do’a sehingga dapat melembutkan hati dan menentramkan jiwa. Hati yang sudah lembut akan lebih mudah menerima kebaikan dan terbawa ikut melakukan kebaikan. Janganlah berkumpul dengan orang – orang yang berakhlak tercela sebab akan terbawa kedalam kecelaan tersebut.
d. Guru.
Hendaklah memilih guru yang luhur budinya, luas ilmunya, tekun ibadahnya, dan sebagai suri tauladan. Perlu juga diperhatikan tata cara menghormati guru sebagai teladan dan pembimbing menuju kebahagiaan abadi. Guru bukanlah sekedar penyampai pengetahuan tapi lebih dari itu, yaitu sebagai pengawas dan pembimbing untuk mencapai tahap yang tinggi di hadirat Allah. Janganlah sampai memilih guru yang cacat budinya, sebab akan tertiru kecacatan budi tersebut.
e. Ibadah dan Hati.
Hendaklah dibiasakan rajin beribadah sedini mungkin. Dengan rajin beribadah maka akan terbiasa untuk mengingat Allah. Hati yang terbiasa digunakan untuk mengingat Allah maka Allah akan menjadi pengatur gerak – gerik anggota tubuh yang lain. Ibarat bagai mengukir lafal Allah pada seluruh badan sehingga setiap aliran darah mengalir asma Allah. Jika asma Allah telah mengalir dalam darah maka ia akan terjaga dari perbuatan – perbuatan tercela.

itu sangat bagus untuk anak2 ….
[Reply]